Target Produksi Minyak 1 Juta Barel

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) udah mematok target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) terhadap 2030 dengan Flow Meter Tokico. Dibutuhkan kira-kira USD 187 miliar investasi, atau kira-kira Rp 2.709,6 triliun (kurs Rp 14.490 per USD) untuk dapat menggapai target tersebut.

 

 

“Indonesia perlu investasi bersama dengan total USD 187 miliar, bersama dengan total Gross revenue menggapai USD 371 miliar, bersama dengan proyeksi pendapatan negara menggapai USD 131 miliar
Dwi Soetjipto menyampaikan, investasi berikut dapat mengimbuhkan efek pengganda (multiplier effect) tidak cuma kepada proyeksi pendapatan negara, namun juga duit yang beredar di sektor hulu migas.

 

 

Rekomendasi tempat daftar haji terbaik : Paket haji plus

 

 

“Besarnya multiplier effect berasal dari terlaksananya visi ini tidak cuma berasal dari proyeksi pendapatan negara, namun juga berasal dari investasi dan duit yang beredar, yang tentunya dapat mengundang efek yang amat besar di dalam upaya perkembangan ekonomi baik regional maupun nasional,” ungkapnya.

Namun, Dwi menekankan, untuk menggapai target berikut amat dibutuhkan pengungkit untuk tingkatkan investasi. Salah satunya, SKK Migas dapat mengupayakan tingkatkan kekuatan saing atau kekuatan tarik Indonesia di dalam investasi.

 

 

“Pertama one door service policy yang diinginkan dapat mempermudah proses perizinan. Ini udah dilaunching di SKK Migas terhadap Januari 2020, dan proses perizinan konsisten makin dipercepat berasal dari pada mulanya 4 hari kerja menjadi 3,1 hari kerja, dan kami mengharapkan di bawah 3 hari untuk 2021 ini,” paparnya.

Selain itu, juga dibutuhkan integrasi kuat bersama dengan kementerian/lembaga terkait, proses fiskal yang kompetitif dan fleksibel, kepastian hukum dan digitalisasi, dan juga ketersediaan bagian di seluruh daerah cekungan yang ada di Indonesia.

“Pemerintah udah mentargetkan ketersediaan information ini dapat tuntas di akhir 2024,” ujar Dwi Soetjipto.