Menikmati Profesi Sebagai Penerjemah Tersumpah

Sebagai penerjemah tersumpah yang membuka perusahaan sendiri yaitu Gamalingua jasa penerjemah, penulis tak peduli bagaimana seseorang mengkategorikan ke hidupan profesionalnya sendiri, menerjemahkan (seperti juga pekerjaan pada umumnya) berhubungan dengan banyak pekerjaan membosankan dan monoton yang tidak mudah ditinggalkan. Itu artinya, jika Anda tidak mampu belajar menikmati pekerjaan yang membosankan, Anda tidak akan bertahan lama dalam pekerjaan ini.

Rasa bosan sekaligus kesenangan dapat ditemukan dalam reliabilitas, upaya sungguh-sungguh untuk menemukan kata yang tepat, berusaha memeras otak untuk mengingat kata yang pernah Anda dengar, menyelesaikan terjemahan hingga dirasakan sudah pas. Ada rasa jenuh dan kegembiraan dalam kecepatan menerjemah, pada saat menerjemahkan secepat Anda bisa sampai keyboard Anda berdengung.

Ada kebosanan dan kesenangan ketika menerjemahkan dengan perlahan-lahan, menatap (sepanjang) teks sumber sambil melamun, membiarkan angan-angan Anda berkelana sembari menggumamkan kata dan kalimat bahasa sasaran. Teks yang sangat membosankan dan membeku kan pikiran dapat dihidupkan dalam imajinasi Anda dengan banyak cara: menukar dokumen teknik menjadi sajak kepahlawanan, atau laporan cuaca menjadi lagu.

Sebenarnya, dalam pengertian tertentu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa keahlian terpenting seorang penerjemah tersumpah adalah kemampuannya untuk belajar menikmati segala sesuatu mengenai pekerjaannya. Tentu saja, dari sudut pandang pengguna terjemahan, ini bukanlah kemampuan terpenting.

Pengguna terjemahan menginginkan teks yang benar dan akurat dengan cepat dan murah. Jika seorang penerjemah memenuhi tuntutan tersebut sembari membenci setiap menit dari pekerjaannya, maka demikianlah adanya yang terjadi. Begitu pula jika kebencian terhadap pekerjaan itu menguras energi si penerjemah sedang ia sudah diangkat sumpahnya dan dikukuhkan sebagai penerjemah resmi dan terdaftar. Di dunia ini ada cukup banyak penerjemah. Jika satu orang merasa jenuh dan berhenti dari profesi ini, sepuluh penerjemah lain akan dengan senang hati menggantikan tempatnya.

Namun, inilah kemampuan terpenting bagi diri penerjemah sendiri. Ya, kemampuan untuk menghasilkan teks yang benar dan akurat itu memang penting; benar, kecepatan menerjemah itu penting. Tetapi, seorang penerjemah cepat dan terpercaya yang membenci pekerjaannya atau merasa pekerjaannya itu membosankan dan membuang-buang waktu saja, tidak akan bertahan lama – dan apa bagusnya kecepatan dan reliabilitas bagi seorang mantan-penerjemah?

“Nak, dulu aku menerjemah dengan cepat.” Kegembiraan dalam bekerja akan memotivasi seorang penerjemah yang “sedang-sedang saja” untuk meningkatkan reliabilitas dan kecepatannya. Kebosanan dan kebencian pada pekerjaan akan membuat seorang penerjemah yang sangat kompeten sekalipun kacau balau dan tidak dapat diandalkan.

Dalam pengertian tertentu, tulisan ini merupakan upaya untuk mendidik penerjemah agar lebih menikmati pekerjaan mereka hingga berhasil pada prestasi yang diharapkan.  Tulisan ini tak hanya melatih kemampuan kosakata atau penerjemahan khusus, tetapi juga yang kita sebut kemampuan “pra penerjemahan”, kemampuan bersikap yang (harus) mendahului dan mendasari setiap pendekatan “verbal” atau “kebahasaan” pada suatu teks: motivasi dari dalam (intrinsic motivation), keterbukaan (open ness), kemampuan untuk menerima (receptivity), keinginan untuk terus-menerus berkembang, berubah, dan mempelajari hal-hal baru, komitmen terhadap pekerjaan, serta menyukai kata-kata, citra, tantangan intelektual, dan manusia.

Sebenarnya, asumsi utama yang mendasari pendekatan tulisan ini terhadap penerjemahan dapat diringkas menjadi aksioma-aksioma berikut:

1. Penerjemahan lebih menyangkut manusia ketimbang sekadar kata-kata.

2. Penerjemahan lebih mengenai pekerjaan yang dilakukan manusia dan cara manusia memandang dunianya ketimbang mengenai catatan-catatan atau sistem lambang.

3. Penerjemahan lebih mengenai imajinasi kreatif ketimbang mengenai analisis teks yang dibatasi kaidah ilmu bahasa.

4. Penerjemah lebih seperti aktor atau musisi (seorang performer) ketimbang tape recorder.

5. Bahkan ketika sedang mengerjakan teks yang sangat teknis, penerjemah lebih seperti seorang penyair atau novelis ketimbang perangkat mesin penerjemah.

6. Giliran akan datang, penerjemah lebih menjadi subjek yang bisa mengatakan “ya” dan atau “tidak” sesuai dengan prinsip moral kepada setiap pengguna.

Tidak berarti diasumsikan bahwa penerjemahan bukanlah mengenai kata-kata, kalimat, ranah bahasa (register), atau sistem lambang. Hal-hal tersebut jelas memang penting dalam penerjemahan. Sebaliknya, asumsi yang dimaksudkan di sini ialah lebih produktif bagi penerjemah bila memikirkan konsep-konsep tadi dalam konteks ke manusiaan yang lebih luas, yaitu sebagai bagian dari ucapan dan tindakan manusia.

Asumsi di atas tidak pula bermaksud menyatakan bahwa penerjemahan yang dilakukan manusia sama sekali berbeda dengan cara kerja tape recorder atau perangkat mesin penerjemah. Analogi-analogi tersebut dapat digambarkan dengan bermanfaat. Yang ingin ditegaskan hanya lah bahwa analogi mesin bisa menimbulkan masalah bagi penerjemah dalam bekerja. Pekerjaan penerjemahan harus dapat dinikmati dengan sarat rasa kemanusiaan, bukan secara mekanis. Analogi mesin merangsang pemikiran yang kaku dan sistematis. Pertolongan yang diberikan alat alat ini kepada penerjemah, yang sedang sendirian di sebuah ruangan dengan teks dan komputer, tidak sebanyak yang diberikan analogi imajinatif dan bersemangat yang berasal dari banyak karya cipta seni atau upaya manu siawi lainnya.

Gamalingua jasa penerjemah memberikan apresiasi yang sangat besar bagi siapa saja yang hendak bergabung dengan kami. Pesan penulis manfaatkan waktu selagi masih ada kesempatan, profesi penerjemah benar benar akan membawa kita semua pada kondisi yang sangat baik. Kalimat bijak unutk penutup tulisan ini adalah “waktu adalah sumber daya alam yang tidak bisa di daur ulang”